Sulawesitoday - Hanya bermula dari api kecil. Dari niat sederhana seorang warga yang ingin membersihkan kebunnya. Maklum, ini musimnya berkebun. Tapi, ia lupa satu hal: ini musim kemarau.
Hasilnya? Celaka.
Api tak bisa ia jinakkan sendiri. Angin kencang datang membantu si jago merah. Dalam sekejap, api menjalar ke mana-mana. Lokasinya di Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, Kabupaten Parigi Moutong.
Kejadiannya sejak Minggu malam, 1 Februari 2026. Hingga hari Selasa kemarin, api belum juga mau benar-benar padam.
Luas yang terbakar bukan main: 20 hektare lebih.
Bayangkan kerugiannya. Yang hangus bukan semak belukar biasa. Isinya adalah tanaman produktif: kelapa, durian, cokelat (kakao), cengkeh, hingga pala. Itu semua adalah "ATM" bagi warga di sana. Kini, semua jadi abu.
Kepala BPBD Parigi Moutong, Moh Rivai, sibuk bukan kepalang. Beliau mengerahkan tiga unit mobil pemadam kebakaran milik Pemkab. Masih kurang. Beruntung, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah sigap mengirimkan satu unit mobil tangki air.
Tugas mobil tangki ini vital: jadi penyuplai air untuk armada damkar agar tidak bolak-balik kejauhan.
Tapi memadamkan api di Parigi Moutong tidaklah mudah. Geografinya menantang. Ada titik api yang muncul di wilayah pegunungan. Mobil damkar jelas menyerah kalau harus naik gunung.
Di sinilah Manggala Agni dari Kementerian Kehutanan masuk. Mereka bergerak manual. Masuk ke hutan, menjangkau medan yang tak tersentuh kendaraan. Mereka dibantu personel TNI, Polri, pemerintah desa, hingga masyarakat setempat.
BPBD bahkan sampai harus mendirikan posko khusus di Desa Telawa. Tujuannya agar akses dan koordinasi tim gabungan lebih cepat.
Mengapa ini bisa terjadi berulang kali?
Data BPBD Sulteng mencatat, sejak awal Januari hingga Februari ini sudah ada 17 kejadian karhutla di Parigi Moutong. Tersebar di tujuh kecamatan. Penyebabnya hampir seragam: aktivitas pembakaran lahan oleh warga.
Memang ada pengaruh alam. Fenomena El Nino membuat musim kemarau lebih panjang dan kering. Risiko kebakaran pun meroket. Tapi, pemicunya tetaplah tangan manusia.
Artikel Terkait
Karhutla 20 Hektare di Avolua Parigi Moutong, Petugas Padamkan Api Secara Manual
Sri Mulyani dan Epstein Files, Fakta di Balik Fitnah Digital yang Mengguncang Ekonomi
Pensiunan ASN Blora Tendang Kucing Hingga Mati, Terancam 1,5 Tahun Bui dan Denda 50 Juta!
Panduan Lengkap Atasi Gagal SMS Verifikasi dan OTP BNI Mobile Banking Terbaru
Pandji Pragiwaksono ke MUI, Tabayyun Mens Rea dan Komitmen Benahi Materi Komedi Sensitif