Sulawesitoday - Istana Merdeka terlihat sibuk Jumat ini. Ada tamu penting datang dari selatan. Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, hadir memenuhi undangan Presiden Prabowo Subianto. Agendanya jelas. Sangat strategis. Urusannya soal keamanan bersama,.
Ini bukan pertemuan mendadak. Ini adalah buah dari perjalanan panjang. Ingat kunjungan kerja Prabowo ke Sydney pada November 2025 lalu? Pertemuan di Jakarta ini adalah lanjutannya. Keduanya sepakat membentuk mekanisme konsultasi yang lebih paten. Antar kepala negara. Juga antar pejabat kementerian.
Menteri Luar Negeri Sugiono memberikan penjelasan usai pertemuan bilateral tersebut. Inti kunjungan Albanese adalah menandatangani sebuah traktat penting. Namanya mentereng: Treaty on Common Security,. Sebuah perjanjian keamanan bersama antara Indonesia dan Australia.
“Inti dari kunjungan beliau hari ini adalah penandatanganan traktat atau perjanjian antara Indonesia dan Australia yang disebut Treaty on Common Security,” ujar Sugiono.
Lewat traktat ini, kedua negara membentuk forum rutin. Isunya: keamanan. Landasannya tetap hukum internasional. Saling menghormati kedaulatan masing-masing menjadi harga mati. Tidak boleh ada yang melampaui batas itu.
Logikanya sederhana namun mendalam. Indonesia dan Australia memang bertetangga. Secara historis dekat. Secara geografis apalagi. Tidak mungkin memindahkan posisi kedua negara.
“Posisi geografis kita mentakdirkan kita untuk hidup berdampingan dan saling menghormati,” tegas Sugiono.
Tapi, pertemuan itu tidak melulu bicara soal pertahanan. Urusan perut dan pembangunan juga masuk meja runding. Ada penandatanganan nota kesepahaman antara Danantara dan Pemerintah Australia. Fokusnya pada kerja sama investasi. Keamanan terjaga, ekonomi pun harus tumbuh bersama.
Suasana di dalam Istana Merdeka pun digambarkan sangat akrab. Terbuka. Tidak ada ketegangan. Keduanya punya komitmen yang sama untuk menjaga stabilitas kawasan.
Harapannya mulia. Ingin wilayah ini tenang. Ingin wilayah ini sejuk. Dan yang pasti, ingin wilayah ini tetap kondusif bagi siapa pun. Australia dan Indonesia tampaknya sudah satu frekuensi dalam melihat masa depan kawasan.
Baca Juga: Satu Pesawat Garuda untuk Prabowo, Seskab Teddy Luruskan Isu Lawatan Luar Negeri
Artikel Terkait
Cara Cek Desil DTKS 2026, Syarat Kunci Lolos KIP Kuliah dan Bansos Kemensos
Awas Maling M-Banking via Iklan Medsos! SCAM Act Siap Jerat Platform yang Nakal
Geger 29 Karung Cacahan Uang Asli di TPS Liar Bekasi, BI Investigasi SOP
5 Cara Simpan Video TikTok Tanpa Logo: Pakai SSSTikTok, SnapTik, hingga Bot Telegram
Kenapa WA Kena Spam Pesan Asing? Simak Solusi Blokir dan Cara Hindari Link Phishing Berbahaya