Sulawesitoday - Pencarian dua remaja asal Kota Palu, Pramudya Diva Siara (16) dan Edson Wuanya (18), memasuki tahap kritis. Tim gabungan bekerja tanpa henti setelah laporan diterima oleh Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Palu pada Senin pagi, 11 November 2024.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Palu, Andrias Hendrik Johannes, menyampaikan, “Tim segera diberangkatkan ke Desa Salungkaenu untuk memulai pencarian.”
Baca Juga: Serangan Israel di Lebanon: 12 Paramedis dan Relawan Tewas, Dunia Serukan Penghentian Kekerasan
Momen seperti ini menguji ketahanan semua pihak yang terlibat, dari para petugas hingga keluarga korban yang menanti dengan cemas. Berdasarkan informasi yang didapat, kedua remaja berangkat mendaki pada Minggu, 10 November, sekitar pukul 09.00 Wita.
Semua tampak normal sampai mereka menghubungi orang tua pada pukul 01.00 Wita, mengabarkan kondisi yang mengkhawatirkan: mereka telah tersesat, kelelahan, dan berada di daerah yang dikenal dengan nama Batu Gantung.
Baca Juga: Terjerat Kasus Judol, Budi Arie Akui Rekrut Fallen Atas Rekomendasi Sosok Misterius
Di sinilah, cerita menjadi semakin genting. Ketika orang tua korban mencoba membantu dengan menyusuri jalur pendakian bersama pendaki lainnya, yang ditemukan hanya barang-barang milik kedua remaja itu. Kondisi di Batu Gantung, yang cukup curam dan dipenuhi medan berbatu, menambah tantangan besar dalam operasi penyelamatan ini. Area ini dikenal oleh pendaki lokal sebagai titik yang sering membingungkan mereka, bahkan bagi yang sudah berpengalaman.
Kepala KPP Palu menyebutkan bahwa personel SAR terdiri dari tujuh anggota yang terlatih, didukung oleh keluarga korban, pemerintah desa, dan masyarakat setempat.
Baca Juga: Rekening Berisi Rp 2,8 M Disita, Dua Tersangka Kasus Mafia Judol Dijerat Hukum
“Satu hal yang tidak pernah kami remehkan dalam situasi seperti ini adalah harapan keluarga. Kami semua bekerja dengan satu tujuan: membawa mereka pulang dengan selamat,” tambah Johannes dengan nada serius. Ada empati mendalam yang terasa dalam setiap pernyataan, seolah memahami bahwa harapan keluarga ada di pundak mereka.
Operasi penyelamatan di medan yang sulit membutuhkan lebih dari sekadar tenaga fisik. Koordinasi antara semua unsur menjadi kunci.
Baca Juga: Polisi Tangguhkan Penahanan Gunawan Sadbor, Tiktokers Promosikan Judi Online di Tiktok
“Kami di sini bukan hanya menjalankan tugas, tetapi juga mencoba memberikan harapan,” kata seorang anggota tim SAR yang terlibat, suaranya serak kelelahan. Di saat yang sama, hujan atau cuaca buruk dapat memperlambat proses pencarian, sebuah kenyataan yang membuat semua orang di lokasi merasa waspada.
Desa Salungkaenu, tempat operasi berlangsung, kini menjadi pusat perhatian. Para warga berbondong-bondong datang untuk menawarkan bantuan, beberapa dengan membawa makanan dan perbekalan, lainnya menyampaikan doa. Bantuan dan solidaritas komunitas ini mungkin kecil bagi sebagian orang, tetapi di lapangan, setiap upaya bisa membuat perbedaan besar.
Artikel Terkait
Rekening Berisi Rp 2,8 M Disita, Dua Tersangka Kasus Mafia Judol Dijerat Hukum
Dari Ojol ke Istana, Kisah Inspiratif Wakil Menteri Ketenagakerjaan yang Tak Terduga
Terjerat Kasus Judol, Budi Arie Akui Rekrut Fallen Atas Rekomendasi Sosok Misterius
Ketika Lakban Jadi Tren: Gigi Hadid Kenakan Gaun Tape DHL, Sosial Media Meledak
Serangan Israel di Lebanon: 12 Paramedis dan Relawan Tewas, Dunia Serukan Penghentian Kekerasan