Kasus ini menyorot dilema. Ketika niat baik bertabrakan regulasi. Ketika kemanusiaan dianggap pelanggaran. Sistem pendidikan kita masih rapuh. Guru honorer tanpa jaminan. Sementara yang peduli justru terseret hukum.
Rehabilitasi Prabowo menjadi angin segar. Namun pertanyaan masih mengambang. Berapa banyak guru lain yang nasibnya serupa? Berapa kasus serupa terpendam tanpa sorotan? Sistem butuh evaluasi menyeluruh. Keberpihakan pada pendidik harus nyata.
Malam di Halim itu bukan sekadar seremonial. Ia simbol harapan. Ketika kekuasaan berpihak pada kemanusiaan. Ketika aspirasi rakyat didengar. Rasnal dan Abdul Muis kini bisa bernapas lega. Nama baik kembali. Hak dipulihkan. Masa depan terbuka.
Tapi cerita ini tak boleh berhenti. Ia harus jadi pelajaran. Guru adalah garda terdepan. Mereka membentuk masa depan bangsa. Melindungi mereka bukan pilihan. Ia kewajiban negara.
Baca Juga: Ribuan Guru PGRI Luwu Utara Demo Tuntut Keadilan Dua Guru SMAN 1 Masamba Kena PTDH
Artikel Terkait
Dana Transfer Dipangkas, Anggota DPRD Parimo Ni Leli Pariani: Pembangunan Tinggal Angan-Angan
Prabowo Bertemu Paul Keating di Canberra, Bahas Geopolitik hingga Stabilitas Regional
Fraksi Golkar di Parlemen Soroti Ruang Fiskal Menyempit, Parigi Moutong Andalkan Komoditas Unggulan untuk Kemandirian Ekonomi Daerah
Fraksi Keadilan Rakyat DPRD Parigi Moutong Tuntut Belanja Modal Naik Bertahap, Infrastruktur Dasar Masih Minim
Perencanaan Whoosh Dikritik ICW, Utang Rp116 Triliun Baru Diributkan Belakangan