Sulawesitoday - Presiden Prabowo Subianto menemui tokoh legendaris Australia. Paul Keating, mantan PM negeri kanguru itu. Pertemuan berlangsung Rabu (12/11) kemarin. Lokasinya di Canberra, ibu kota Australia. Kunjungan kenegaraan Prabowo menjadi momentum strategis. Dialog dua pemimpin ini penuh substansi.
Ruangan pertemuan dipenuhi kehangatan. Gagasan saling bertukar dengan intens. Prabowo tampak antusias mendengarkan Keating. Pengalaman puluhan tahun sang mantan PM. Itu menjadi aset berharga diskusi. Topik geopolitik dan ekonomi mendominasi. Kawasan Indo-Pasifik jadi fokus utama.
"Saya kira sangat bagus," kata Prabowo usai pertemuan. Wajahnya memancarkan kepuasan mendalam. "Beliau sangat berpengalaman sekali. Pemikirannya jernih dan tajam." Kalimat itu keluar dengan nada kagum. Presiden mengakui banyak dapat inspirasi. Keating memang dikenal pemikir ulung.
-
Apa yang Dibahas Prabowo dan Keating?
Diskusi mereka mencakup spektrum luas. Hubungan internasional jadi poin pertama. Ekonomi global turut diulas mendalam. Geoekonomi dan geopolitik kawasan dibahas. Pergeseran kekuatan dunia tak luput. Dinamika Indo-Pasifik menjadi perhatian khusus.
"Pemikiran-pemikiran beliau sangat jernih," tutur Prabowo. Pengalaman Keating lintas dekade terasa. Dia pernah memimpin Australia 1991-1996. Era itu penuh transformasi ekonomi. Keating juga arsitek integrasi Australia-Asia. Perspektifnya tentang kawasan sangat tajam.
Prabowo menjelaskan detail lebih lanjut. "Di bidang hubungan internasional sangat mendalam," katanya. Ekonomi global jadi bahasan panjang. Geoekonomi dipetakan dengan teliti. Geopolitik dikupas tanpa tedeng aling-aling. Dua pemimpin ini berbagi kegelisahan sama. Stabilitas kawasan jadi prioritas utama.
-
Mengapa Pertemuan Ini Penting bagi Indonesia?
Indonesia dan Australia adalah tetangga. Jarak geografis mengikat takdir keduanya. Keamanan regional jadi kepentingan bersama. Kemakmuran kawasan adalah tujuan mutual. Prabowo memahami ini dengan jernih.
"Kita harus tahu bahwa kita bertetanga," ujar Prabowo tegas. Kata-katanya mengandung bobot diplomasi. "Indonesia berkepentingan punya hubungan baik." Australia pun demikian sebaliknya. Kerja sama bilateral bukan pilihan. Itu adalah keharusan strategis absolut.
Presiden melanjutkan penjelasannya dengan gamblang. "Kalau kita bekerja sama dengan baik," katanya mantap. Semua bidang harus digarap serius. Manfaat akan mengalir ke kedua negara. Kawasan pun ikut merasakan dampaknya. "Ini akan membawa manfaat sangat besar," tegasnya.
Keating sendiri lama memperjuangkan integrasi Australia-Asia. Dia percaya masa depan Australia di Asia. Bukan di Eropa atau Amerika semata. Pandangan ini revolusioner dekade lalu. Kini terbukti sangat visioner sekali.
-
Bagaimana Prospek Hubungan Indonesia-Australia ke Depan?
Pertemuan Prabowo-Keating bukan sekadar formalitas. Ada pesan kuat di baliknya. Indonesia ingin kerja sama lebih dalam. Australia punya kepentingan serupa juga. Geopolitik kawasan makin kompleks sekarang.
Kedua negara menghadapi tantangan serupa. Perubahan iklim mengancam wilayah pesisir. Ekonomi digital butuh regulasi tepat. Keamanan maritim perlu pengawalan bersama. Isu migrasi memerlukan pendekatan kolaboratif.
Prabowo membawa visi jelas dalam kunjungan ini. Indonesia ingin menjadi pemain utama. Kawasan Indo-Pasifik adalah panggung strategis. Australia jadi partner penting sekali. Keating memahami dinamika ini dengan baik.
Dialog mereka berdua mencerminkan kedewasaan diplomatik. Bukan omong kosong atau basa-basi. Substansi jadi prioritas utama pertemuan. Pengalaman Keating memperkaya perspektif Prabowo. Visi Prabowo membawa angin segar.
Artikel Terkait
Fraksi Keadilan Rakyat DPRD Parigi Moutong Tegaskan Siap Bahas Pansus WP dan WPR, Golkar Justru Mundur
DPD NasDem Parigi Moutong di HUT Ke-14, Konsisten Bawa Arus Perubahan
Perampingan OPD Parimo Mentok Aturan Teknis, 16 Lelang Jabatan Tetap Jalan Meski Wacana Efisiensi Bergulir
Sepuluh Tahun Terlupakan, Jalan Moutong Masih Rusak: Anggota DPRD Ungkap Ketimpangan Pembangunan di Parigi Moutong
Dana Transfer Dipangkas, Anggota DPRD Parimo Ni Leli Pariani: Pembangunan Tinggal Angan-Angan