Sulawesitoday - Sembilan hari menjelang peringatan HUT ke-80 TNI, suasana di Taman Makam Bahagia (TMB) Kelurahan Masigi, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parimo berubah total. Rumput liar dipangkas. Nisan dibersihkan. Jalanan makam disapu bersih.
Puluhan tangan bekerja kompak. Ada seragam loreng TNI. Ada pula kaos warga sipil. Mereka bahu-membahu membersihkan area pemakaman yang telah lama terabaikan itu, Jumat (03/10/25).
Kapten Arhanudse I Made Duryawan, Danramil 1306-06/Parigi, turun langsung memimpin aksi ini. Ia tak segan mengangkat cangkul. Tak ragu menyapu dedaunan kering. Bersama 10 personil Koramil dan 15 warga serta aparat kelurahan, mereka mengubah wajah TMB dalam hitungan jam.
"Ini bukan sekadar bersih-bersih biasa," ujar Kapten Made sembari mengelap keringat di dahinya. Matanya menatap deretan nisan yang kini tampak lebih terawat. "Ini tentang menghormati mereka yang telah berjuang mempertahankan kemerdekaan kita."
Mengapa Pembersihan Makam Jadi Agenda Menjelang HUT TNI?
Pertanyaan itu mungkin terlintas di benak sebagian orang. Kenapa harus membersihkan makam? Bukankah ada cara lain merayakan HUT TNI yang lebih meriah?
Jawabannya sederhana namun dalam. Kegiatan ini bukan semata formalitas. Ini penanaman nilai. Nilai perjuangan para pahlawan Kusuma Bangsa yang telah mengorbankan jiwa raga demi kemerdekaan Indonesia.
"Kami ingin generasi muda paham," jelas Kapten Made dengan nada tegas. "Kemerdekaan ini tidak datang begitu saja. Ada darah. Ada air mata. Ada nyawa yang melayang."
Aksi pembersihan TMB ini menjadi medium pembelajaran langsung. Bukan dari buku sejarah. Bukan dari ceramah di kelas. Tapi dari sentuhan langsung dengan tempat peristirahatan terakhir para pejuang.
Lebih dari Sekadar Karya Bakti Teritorial
Program Pembinaan Teritorial memang menjadi rutinitas Koramil di seluruh Indonesia. Namun kegiatan di Parigi ini punya multi dimensi. Tidak hanya memenuhi program rutin, tapi juga membangkitkan kesadaran kolektif.
Babinsa turun lapangan. Warga antusias bergabung. Aparat kelurahan memberikan dukungan penuh. Sinergi ini menciptakan energi positif yang jarang terlihat dalam kegiatan formal lainnya.
"Terima kasih kepada semua yang terlibat," ucap Kapten Made kepada para peserta yang berkumpul usai kegiatan. Wajah mereka bersimbah peluh. Tapi senyum kepuasan terpancar jelas. "Kalian telah menunjukkan bahwa mengisi kemerdekaan bisa dimulai dari hal sederhana seperti ini."
Generasi muda, lanjut Danramil, harus mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif. Bukan dengan sikap apatis. Bukan dengan melupakan sejarah. Apalagi dengan tindakan yang merusak.
Artikel Terkait
Apa Fungsi Kepala Teknik Tambang yang Jadi Syarat Wajib IPR Sulteng, Gagal Sertifikasi 6 Bulan Harus Cari dari Luar
KPK Tetapkan Staf Ahli Mensos Tersangka, Korupsi Bansos Beras PKH 2020 Rugikan Negara Rp200 M
Dua Warga Gugat Pensiun Seumur Hidup DPR ke Mahkamah Konstitusi, Singgung Keadilan untuk Rakyat Biasa
Kebijakan Penghapusan Tunggakan BPJS Kesehatan Puluhan Triliun Segera Berlaku - Peserta Bisa Mulai Iuran Baru Tanpa Beban Utang Lama
Audit Kejati dan Inspektorat Parigi Moutong: Pembangunan Perpustakaan Terancam Teguran KPK, Progres Baru 57 Persen