Sulawesitoday - Reformasi Kepolisian kembali jadi sorotan publik. Kali ini bukan soal program atau janji manis. Melainkan tentang siapa yang layak memimpin perubahan itu. Ray Rangkuti, pengamat politik yang kerap blak-blakan, melempar pernyataan kontroversial. Menurutnya, langkah pertama reformasi Polri justru harus dimulai dengan mengganti Kapolri saat ini.
Pernyataan itu muncul saat Ray mengkritisi pembentukan tim reformasi internal Polri. Tim yang dibentuk Jenderal Listyo Sigit Prabowo ini dinilai mencurigakan. Bukan soal niatnya. Tapi soal timingnya yang terlalu "pas" dengan pembentukan tim reformasi dari Presiden.
"Saya merasa itu upaya menghalang-halangi," ujar Ray dalam podcast Politika ID, Sabtu kemarin. Nada bicaranya tenang. Namun pesan di baliknya tajam menohok.
Kenapa Baru Sekarang Bicara Reformasi?
Pertanyaan ini yang terus Ray Rangkuti lontarkan. Listyo Sigit sudah hampir lima tahun memimpin. Tepatnya sejak 27 Januari 2021. Masa kepemimpinan yang tak sebentar. Namun baru di penghujung jabatan, reformasi jadi prioritas.
"Hampir lima tahun menjabat, kok baru bicara reformasi?" tanya Ray retoris. Pertanyaan yang sulit dijawab dengan logika sederhana.
Menurut Ray, ini bukan soal keterlambatan biasa. Ini soal kredibilitas. Soal keseriusan. Empat tahun lebih berlalu tanpa gebrakan reformasi berarti. Lalu tiba-tiba di ujung masa jabatan, muncul tim percepatan reformasi internal. Dibentuk 17 September 2025. Beranggotakan 52 Perwira Tinggi. Diketuai Komjen Chrysnanda Dwilaksana.
Timing yang terlalu sempurna. Atau terlalu mencurigakan?
Bisakah Internal Mereformasi Dirinya Sendiri?
Ray tegas menyatakan keraguannya. Polri sudah diberi kesempatan sejak reformasi 1998. Lebih dari dua dekade. Hasilnya? Kepercayaan publik masih di level bawah. Survei demi survei menunjukkan hal serupa.
"Kalau mereka bisa mereformasi, nggak begini ujungnya," kata Ray. Logikanya sederhana tapi sulit dibantah. Organisasi yang gagal memperbaiki diri selama puluhan tahun, bagaimana bisa tiba-tiba berhasil?
Pengalaman masyarakat berbicara sendiri. Kehilangan ayam, lapor polisi. Malah kehilangan kambing. Istilah ini bukan lelucon receh. Ini realitas yang jamak didengar. Bukan setahun dua tahun. Tapi puluhan tahun.
"Masyarakat sudah tahu gimana polisi kita," papar Ray. Nada bicaranya campur aduk. Ada kekecewaan. Ada frustrasi. Juga ada harapan yang masih tersisa tipis.
Karena itulah, Ray menyebut pembentukan tim internal ini tidak diperlukan. Bukan karena anti reformasi. Justru karena terlalu peduli dengan reformasi sejati.
Artikel Terkait
Karyawan Pialang Asuransi Dipecat Gara-Gara Tumbler Hilang di KRL, Curhatan Medsos Berujung PHK
Proyek Gedung Perpustakaan Parimo Terancam Putus Kontrak Gara-Gara Kaca, PPK vs Kontraktor
Kemenhub Diam-Diam Cabut Izin Bandara IMIP Sejak Oktober, Jauh Sebelum Polemik Mencuat
Wabup Parimo Disebut Tekan PPK Cairkan Dana Proyek Perpustakaan
Tragedi Banjir Bandang Sumatera Telan 303 Nyawa, Ratusan Orang Masih Hilang