• Senin, 20 Juli 2026

Ray Rangkuti Sebut Ganti Kapolri Listyo Sigit Dulu Sebelum Bicara Reformasi Polri, Ini Alasannya

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Sabtu, 29 November 2025 | 22:04 WIB
Ray Rangkuti usulkan ganti Kapolri sebagai langkah awal reformasi Polri. Timing pembentukan tim internal dinilai mencurigakan.
Ray Rangkuti usulkan ganti Kapolri sebagai langkah awal reformasi Polri. Timing pembentukan tim internal dinilai mencurigakan.

Sulawesitoday - Reformasi Kepolisian kembali jadi sorotan publik. Kali ini bukan soal program atau janji manis. Melainkan tentang siapa yang layak memimpin perubahan itu. Ray Rangkuti, pengamat politik yang kerap blak-blakan, melempar pernyataan kontroversial. Menurutnya, langkah pertama reformasi Polri justru harus dimulai dengan mengganti Kapolri saat ini.

Pernyataan itu muncul saat Ray mengkritisi pembentukan tim reformasi internal Polri. Tim yang dibentuk Jenderal Listyo Sigit Prabowo ini dinilai mencurigakan. Bukan soal niatnya. Tapi soal timingnya yang terlalu "pas" dengan pembentukan tim reformasi dari Presiden.

"Saya merasa itu upaya menghalang-halangi," ujar Ray dalam podcast Politika ID, Sabtu kemarin. Nada bicaranya tenang. Namun pesan di baliknya tajam menohok.

Kenapa Baru Sekarang Bicara Reformasi?

Pertanyaan ini yang terus Ray Rangkuti lontarkan. Listyo Sigit sudah hampir lima tahun memimpin. Tepatnya sejak 27 Januari 2021. Masa kepemimpinan yang tak sebentar. Namun baru di penghujung jabatan, reformasi jadi prioritas.

"Hampir lima tahun menjabat, kok baru bicara reformasi?" tanya Ray retoris. Pertanyaan yang sulit dijawab dengan logika sederhana.

Menurut Ray, ini bukan soal keterlambatan biasa. Ini soal kredibilitas. Soal keseriusan. Empat tahun lebih berlalu tanpa gebrakan reformasi berarti. Lalu tiba-tiba di ujung masa jabatan, muncul tim percepatan reformasi internal. Dibentuk 17 September 2025. Beranggotakan 52 Perwira Tinggi. Diketuai Komjen Chrysnanda Dwilaksana.

Timing yang terlalu sempurna. Atau terlalu mencurigakan?

Bisakah Internal Mereformasi Dirinya Sendiri?

Ray tegas menyatakan keraguannya. Polri sudah diberi kesempatan sejak reformasi 1998. Lebih dari dua dekade. Hasilnya? Kepercayaan publik masih di level bawah. Survei demi survei menunjukkan hal serupa.

"Kalau mereka bisa mereformasi, nggak begini ujungnya," kata Ray. Logikanya sederhana tapi sulit dibantah. Organisasi yang gagal memperbaiki diri selama puluhan tahun, bagaimana bisa tiba-tiba berhasil?

Pengalaman masyarakat berbicara sendiri. Kehilangan ayam, lapor polisi. Malah kehilangan kambing. Istilah ini bukan lelucon receh. Ini realitas yang jamak didengar. Bukan setahun dua tahun. Tapi puluhan tahun.

"Masyarakat sudah tahu gimana polisi kita," papar Ray. Nada bicaranya campur aduk. Ada kekecewaan. Ada frustrasi. Juga ada harapan yang masih tersisa tipis.

Karena itulah, Ray menyebut pembentukan tim internal ini tidak diperlukan. Bukan karena anti reformasi. Justru karena terlalu peduli dengan reformasi sejati.

Halaman:

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini