Apa Motif Di Balik Pembentukan Tim Internal?
Ray punya analisis sendiri. Menurutnya, ada dua alasan utama. Pertama, untuk menyelamatkan muka. Listyo Sigit ingin menunjukkan dia paham soal reformasi. Bukan Kapolri yang cuek atau tidak peduli. Makanya tim internal dibentuk.
Kedua, untuk meredam kritik publik. Demonstrasi Agustus 2025 masih segar di ingatan. Tuntutan reformasi Polri bergema kencang. Tekanan dari berbagai pihak meningkat. Lalu muncullah tim internal ini. Seolah menjawab tuntutan. Padahal substansinya dipertanyakan.
Belum lagi adanya tim reformasi dari Presiden Prabowo Subianto. Dibentuk 7 November 2025. Beranggotakan tokoh-tokoh penting. Jimly Asshiddiqie. Yusril Ihza Mahendra. Otto Hasibuan. Tito Karnavian. Mahfud MD. Bahkan Listyo Sigit sendiri masuk sebagai anggota.
Dua tim reformasi. Satu dari internal. Satu dari presiden. Pertanyaannya: siapa yang sebenarnya memimpin reformasi ini?
Ganti Kapolri, Langkah Pertama yang Harus Dilakukan?
Inilah pernyataan paling kontroversial Ray Rangkuti. Menurutnya, reformasi Polri baru bisa jalan kalau Kapolri diganti. Bukan soal personal. Tapi soal track record dan kemampuan.
"Langkah pertama tim reformasi adalah mengganti Kapolri sekarang," tegas Ray. Tanpa basa-basi. Tanpa eufemisme.
Alasannya jelas. Empat tahun lebih memimpin tanpa reformasi berarti. Kenapa harus diberi kesempatan lagi? Kenapa tidak beri peluang pada pemimpin baru yang mungkin punya visi lebih jelas?
Ray menyebut ini bukan soal menjatuhkan seseorang. Ini soal efektivitas. Soal urgensi. Polri butuh pemimpin yang benar-benar serius mereformasi. Bukan pemimpin yang bicara reformasi di ujung jabatan.
Tentu saja, pernyataan ini akan menuai pro-kontra. Ada yang setuju. Ada yang menentang. Tapi yang pasti, Ray sudah melempar batu besar ke kolam yang selama ini terlalu tenang.
Reformasi atau Sekadar Wacana?
Polri punya sejarah panjang dengan janji reformasi. Sejak 1998, kata itu selalu muncul. Di setiap pergantian kepemimpinan. Di setiap momen krisis. Namun perubahan substansial? Masih jadi pertanyaan besar.
Kini, dengan dua tim reformasi yang berjalan paralel, publik menunggu. Bukan menunggu janji. Tapi menunggu aksi nyata. Menunggu perubahan yang benar-benar terasa.
Ray Rangkuti sudah melempar gagasannya. Kontroversial memang. Tapi di sinilah esensi demokrasi. Ide yang berbeda boleh disampaikan. Lalu publik yang menilai.
Artikel Terkait
Karyawan Pialang Asuransi Dipecat Gara-Gara Tumbler Hilang di KRL, Curhatan Medsos Berujung PHK
Proyek Gedung Perpustakaan Parimo Terancam Putus Kontrak Gara-Gara Kaca, PPK vs Kontraktor
Kemenhub Diam-Diam Cabut Izin Bandara IMIP Sejak Oktober, Jauh Sebelum Polemik Mencuat
Wabup Parimo Disebut Tekan PPK Cairkan Dana Proyek Perpustakaan
Tragedi Banjir Bandang Sumatera Telan 303 Nyawa, Ratusan Orang Masih Hilang