Jarang sebuah peluncuran wisata mendapat perhatian sebesar itu.
Tanda bahwa ini bukan program kecil-kecilan.
Ajakan yang Tidak Bisa Ditolak
Di penghujung acara, Bupati Achmad Syukri tidak sekadar berpidato.
Ia mengajak. Bukan memerintah.
"Mari kita jadikan kawasan Kota Tua Majene sebagai ruang yang hidup bagi budaya, sejarah, dan aktivitas ekonomi masyarakat," ujarnya—sebelum melafazkan basmalah dan secara resmi membuka layanan Bendi Wisata.
Komunitas budaya diajak. Pelaku usaha diajak. Generasi muda diajak.
Karena tanpa mereka, program ini hanya akan menjadi momen foto yang indah—tapi cepat terlupakan.
Antara Masa Lalu dan Masa Depan
Bendi wisata bukan mundur ke masa lalu.
Ia adalah cara cerdas merawat identitas di tengah gempuran modernisasi yang tidak pernah bisa dihentikan. Kota Tua Majene kini punya narasi baru: nostalgia yang bisa dinikmati, bukan hanya dikenang.
Jika berhasil, ini bisa menjadi ikon. Seperti becak kayuh di Yogyakarta. Seperti andong di Solo.
Majene sedang menulis sejarahnya sendiri.
Dan kuda itu—dengan langkah tegap—sudah mulai melangkah.
Artikel Terkait
Polemik AMDAL STAIN Majene: Gedung Sudah Berdiri, Dokumen Lingkungan Baru Tahap Awal
Hapus Sekat di Kominfo, Bupati AST Minta Wartawan Majene Tidak Dibeda-bedakan
Gerakan Takjil SD 6 Majene, Bukan Sekadar Manis Tapi Soal Empati Siswa
Pelayanan Adminduk Majene Kembali Pulih Usai Sempat Disorot Mahasiswa Unsulbar
Logika Pelayanan Bupati Majene, Rakyat Kecil Tak Boleh Lagi Merasa Dianaktirikan