• Selasa, 21 Juli 2026

Legislator Ini Disorot Netizen, Limbah Tambang Emas Ilegal Suami Diduga Timbun Sungai Moutong

.
Muhammad Aqil Azizi, Sulawesi Today
- Minggu, 5 April 2026 | 13:06 WIB
Warga Moutong protes! Sungai tercemar limbah tambang yang menyeret nama anggota DPRD Sulteng Selpina Basrin. Akankah fungsi pengawasan kalah oleh bisnis?
Warga Moutong protes! Sungai tercemar limbah tambang yang menyeret nama anggota DPRD Sulteng Selpina Basrin. Akankah fungsi pengawasan kalah oleh bisnis?

Sulawesitoday - Sungai tidak bisa memilih nasibnya. Dia pasrah saja. Mau dialiri air jernih, syukur. Mau dijejali limbah, dia diam. Tapi warga Moutong tidak bisa diam. Mereka tidak punya sifat pasrah seperti sungai.

Awalnya cuma soal jembatan. Jembatan di Moutong Timur itu rusak. Tak kunjung diperbaiki. Warga mengeluh di Facebook. Biasa. Tapi, keluhan soal semen dan aspal itu tiba-tiba belok ke arah air. Ke arah sungai.

Rupanya, Sungai Moutong sedang sesak nafas. Alirannya tersumbat material yang tidak diundang. Limbah tambang. Dan di jagat digital, sebuah nama besar mendadak terseret arus: Selpina Basrin. Beliau bukan orang sembarangan. Beliau anggota DPRD Sulawesi Tengah. Sosok yang seharusnya menjaga aturan, bukan menjadi bagian dari soal.

"Ini Ibu Selpina Basrin dia anggota dewan, sedangkan suaminya Nawir Prima yang punya tambang di Tagena," tulis akun @BreathtakingRaxxxxxxx. Pendek. Tapi menusuk.

Inilah potret ironi itu. Di satu sisi ada jabatan terhormat sebagai wakil rakyat. Tugasnya mengawasi. Di sisi lain, ada aktivitas bisnis keluarga di Tagena yang dituding menjadi biang kerok rusaknya ekosistem. Logika warga sederhana saja: bagaimana mungkin sang dewan bisa galak mengawasi lingkungan jika yang harus diawasi adalah dapurnya sendiri?

Limbah itu kini menimbun Sungai Moutong. Begitu kabar yang beredar kencang.

Ketimpangan itu memang terasa pedih. Terutama di kolom komentar. Ada pola lama yang terulang: yang dekat kekuasaan makan nangkanya, rakyat kecil kena getahnya. Atau dalam bahasa warga lokal: kena limbahnya.

"Sedangkan masyarakat yang tidak akrab, telan ludah saja," tulis akun @TalentedAllxxxxxxx. Sebuah kalimat yang menggambarkan betapa dalamnya luka masyarakat terhadap aroma nepotisme pertambangan ini.

Di Moutong, sungai adalah nyawa. Kalau sungai sudah tertimbun, rasa sabar pun ikut tertimbun. Kekecewaan itu kini bermutasi menjadi gerakan politik. Bukan lewat demonstrasi di jalanan, tapi lewat jempol di layar ponsel. Semacam "pengadilan digital".

Hukumannya ngeri: gerakan tutup pintu di tempat pemungutan suara.

"Setuju, tidak usah dipilih lagi," tegas akun @Mulxxxxxx.

Bagi Selpina Basrin, ini adalah ujian sesungguhnya. Politik itu cair, tapi jejak limbah itu pekat. Memperbaiki citra mungkin bisa dilakukan dengan satu-dua pernyataan pers. Tapi membersihkan material tambang yang sudah kadung menyumbat sungai—dan menyumbat kepercayaan warga—tentu tidak semudah menghapus status di Facebook.

Sungai Moutong masih di sana. Menunggu kejelasan. Antara fungsi pengawasan dewan atau kepentingan tambang sang suami. Rakyat sudah mencatat. Dan catatan digital, biasanya, tidak mengenal kata lupa.

Emas Melimpah, Negara Absen: Kegagalan Legalitas Tambang di Parigi Moutong

Editor: Muhammad Aqil Azizi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini