Sulawesitoday - Selasa 17 Maret 2026, Kawasan Kota Tua Majene tidak seperti biasanya.
Ada kegembiraan. Ada warna. Ada dua bendi berhias yang siap meluncur di jalan-jalan bersejarah itu.
Bupati Majene H. A. Achmad Syukri turun langsung. Meresmikan. Bukan sekadar memotong pita—tapi membuka lembaran baru pariwisata budaya di Tanah Mandar.
Namanya Bendi Wisata.
Sederhana. Tapi bermakna dalam.
Bukan Sekadar Kuda dan Kereta
Bendi bukan barang baru bagi orang Mandar. Sudah lama ia menjadi bagian dari keseharian. Tapi ia pelan-pelan tergeser. Oleh motor. Oleh mobil. Oleh kecepatan zaman yang tidak memberi ruang untuk bernostalgia.
Pemerintah Kabupaten Majene melihat peluang di sana.
Kalau motor bisa membawa penumpang, mengapa bendi tidak bisa membawa wisatawan?
"Kehadiran Bendi Wisata ini diharapkan mampu menghadirkan pengalaman wisata yang unik. Pengunjung tidak hanya menikmati keindahan kota, tetapi juga merasakan atmosfer sejarah dan budaya yang menjadi identitas Majene," ujar Achmad Syukri dalam sambutannya.
Satu kalimat. Tapi beratnya tidak ringan.
Karena di balik itu ada strategi. Ada harapan para kusir yang selama ini kehilangan arah mata pencaharian. Ada mimpi menjadikan Kota Tua bukan hanya tempat lewat—tapi tempat singgah dan menghayati.
Ekonomi Rakyat yang Tersembunyi di Balik Pelana
Peluncuran ini bukan pesta seremonial semata.
Di balik meriah riasan bendi, ada hitungan ekonomi yang serius. Para kusir—yang selama ini hidup di pinggir margin—kini punya peluang baru. Pariwisata membuka pintu yang sempat tertutup rapat oleh modernisasi.
Forkopimda hadir. Wakil Bupati hadir. Sekretaris Daerah hadir. Para pimpinan OPD hadir. Pegiat konten kreatif hadir. Wartawan hadir.