berita

Pelajaran Mahal dari Batujajar, Konten Joget yang Berujung Penutupan Dapur Gizi

Kamis, 26 Maret 2026 | 13:45 WIB
BGN hentikan operasional SPPG Pangauban usai video joget Hendrik Irawan viral. 150 relawan batal kerja jelang program Makan Bergizi Gratis 31 Maret.

Sulawesitoday - Nasib malang menimpa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pangauban, Batujajar. Baru saja hendak tancap gas usai libur Lebaran, operasionalnya justru harus tiarap. Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas: menghentikan sementara aktivitas di sana.

Pemicunya sederhana, tapi fatal di era digital: sebuah video joget.

Mitranya, Hendrik Irawan, mendadak viral. Bukan karena prestasi gizi, melainkan karena aksinya berjoget di area sensitif. Netizen bergerak cepat. Komentar pedas menghujam. Hasilnya, BGN tidak mau ambil risiko. Operasional dihentikan.

Hendrik pun muncul kembali di media sosial. Kali ini bukan untuk berjoget, melainkan untuk menundukkan kepala. Permohonan maaf meluncur berkali-kali.

“Saya diberhentikan oleh Ibu Nanik selaku BGN, mungkin netizen sudah merasa puas,” akunya melalui akun Instagram pribadinya, Kamis (26/3).

Kesalahan itu memang sulit dibantah. Protokol kebersihan dan standar operasional prosedur (SOP) seolah terlupakan demi konten. Ada video yang menunjukkan aksi joget di ruang pemorsian tanpa alat pelindung diri (APD). Padahal, itu adalah jantung dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Banyak orang menyayangkan. Niat hati ingin eksis, yang didapat justru vonis.

“Emang sih, ini kesalahan karena tidak mematuhi protokol nge-dance di ruangan tempat saya yang tidak menyangka akan seviral ini,” tambah Hendrik.

Namun, dampak dari video singkat itu ternyata panjang. Bukan hanya soal reputasi pribadi, tapi soal periuk nasi orang banyak. Penghentian operasional ini membuat sekitar 150 relawan terancam tidak bekerja pada 31 Maret mendatang.

Padahal, semua orang tahu, pasca-Lebaran adalah masa sulit. Dompet mulai menipis. Harapan para relawan untuk kembali produktif kini harus tertahan di pintu dapur yang terkunci.

“Saya sangat prihatin bagaimana nasib relawan saya yang bener-bener sudah semangat, karena setelah Lebaran kan keuangan juga habis,” jelasnya dengan nada getir.

Padahal, persiapan sudah matang. Susu sudah dipesan. Menu sudah dirancang. Semua rencana itu kini kandas di tengah jalan. Padahal, selama ini diklaim tidak pernah ada keluhan mengenai kualitas makanan di SPPG Pangauban.

Dapur yang bagus ternyata tidak cukup jika tidak dibarengi dengan kedisiplinan sikap. Netizen telah menunjukkan kekuatannya.

Kualitas Menu MBG Disorot, Tantangan Dadan Hindayana Hadirkan Menu Mewah Harga Rakyat

Halaman:

Tags

Terkini