Sulawesitoday - Dapur itu harusnya suci. Tempat meracik gizi. Tapi di Kangayan, Sumenep, dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cendekia Waskita mendadak berubah fungsi. Bukan aroma masakan yang tercium, melainkan bau pamer kemewahan yang norak.
Rabu kemarin, jagat maya geger. Sebuah video berdurasi pendek merekam aksi para pegawai—yang mayoritas perempuan—sedang asyik berjoget. Speaker berdentum. Suaranya melengking di antara kompor dan panci besar. Yang membuat dada sesak: ada aksi saweran. Uang pecahan Rp100.000 dihambur-hamburkan ke udara. Jatuh ke lantai dapur yang seharusnya steril.
Publik meradang. Bagaimana mungkin, di saat ekonomi lagi susah-susahnya, para pelayan gizi ini malah pamer duit di tempat kerja. Apalagi ini bukan kantor biasa. Ini tempat menyiapkan makanan untuk anak-anak sekolah.
"Ini sangat tidak patut dicontoh," tegas Pongli, anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kangayan, dengan nada bicara yang masih menyisakan kekesalan.
Persoalannya bukan cuma soal joget. Masalahnya lebih dalam. Pongli mengungkapkan bahwa rapor SPPG di wilayahnya memang sudah merah sebelum video ini viral. Warga sering mengeluh. Kualitas menu yang dibagikan ke siswa sekolah dianggap jauh dari kata layak.
Bayangkan. Makanannya dikritik kurang bergizi, tapi petugasnya malah asyik pesta pora. "Bukan memperbaiki kualitas, ini malah bikin masalah lagi," tambah Pongli.
Logikanya sederhana. Kalau punya uang lebih untuk disawer, kenapa kualitas makanan siswa tidak diperbaiki? Mengapa energi untuk berjoget tidak dialihkan untuk memastikan setiap piring nasi anak sekolah berisi lauk yang bergizi tinggi?
Hingga naskah ini diturunkan, pihak SPPG Cendekia Waskita masih bungkam. Belum ada klarifikasi resmi. Mungkin mereka masih sibuk membereskan sisa-sisa uang di lantai dapur, atau mungkin sedang bingung menyusun kata maaf.
Warga desa sudah tidak sabar. Mereka mendesak pemerintah pusat turun tangan. Evaluasi total. Jangan sampai program gizi nasional yang mulia ini justru jadi ajang hura-hura oknum di daerah yang kehilangan empati.
Dapur adalah hati dari sebuah program gizi. Jika hatinya sudah kotor oleh sikap pamer dan ketidakpedulian, apa yang bisa diharapkan dari isi piring anak-anak kita di Sumenep?
Mungkin mereka lupa: di atas lantai tempat mereka menyawer uang itu, ada harapan ribuan orang tua agar anak-anak mereka tumbuh sehat. Bukan tumbuh melihat tontonan yang menyakitkan hati.
Bukan 70 Ribu Unit, Ini Penjelasan Bos BGN Soal Ribuan Motor Operasional MBG