• Senin, 20 Juli 2026

Brigjen Lamek Taplo Tewas di Kiwirok Papua, Operasi TNI Makin Intensif di Wilayah Kodap XV Ngalum Kupel

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Senin, 20 Oktober 2025 | 09:56 WIB
Panglima TPNPB Lamek Taplo tewas tertimpa granat di Kiwirok. Wakil pangkodap konfirmasi lewat video. TNI belum beri pernyataan resmi.
Panglima TPNPB Lamek Taplo tewas tertimpa granat di Kiwirok. Wakil pangkodap konfirmasi lewat video. TNI belum beri pernyataan resmi.

Sulawesitoday - Panglima besar tewas. Bukan oleh peluru. Bukan dalam baku tembak. Melainkan oleh granat yang ia coba singkirkan sendiri. Brigjen Lamek Alipki Taplo, sosok kunci Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Kodap XV Ngalum Kupel, gugur bersama tiga anak buahnya di Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Minggu (19/10). Ironi tragis di tengah eskalasi operasi keamanan yang kian memanas.

Kabar kematian itu bukan dari TNI. Bukan dari media mainstream. Melainkan dari internal TPNPB sendiri. Kolonel Denius Wopka, Wakil Pangkodap XV Ngalum Kupel, mengkonfirmasi kejadian lewat video yang diunggah di kanal YouTube Hunter Bin. Nada suaranya berat. Matanya berkaca. "Hari ini kami kehilangan Panglima Besar kami," ujarnya dengan suara bergetar.

  • Bagaimana Kronologi Kejadian Ledakan Itu?

Insiden bermula dari operasi penyergapan. Pasukan TNI diduga menyerang markas TPNPB. Granat dilontarkan ke lokasi. Namun granat itu gagal meledak. Jatuh begitu saja di dekat pos. Brigjen Lamek melihat ancaman itu. Bersama tiga prajuritnya, ia berinisiatif menyingkirkannya.

Keputusan fatal.

Saat granat diangkat, ledakan dahsyat terjadi. Empat nyawa melayang seketika. Tidak ada kesempatan untuk berlindung. Tidak ada waktu untuk mundur. Kematian datang dalam sekejap, di tengah wilayah yang mereka anggap sebagai benteng terakhir perlawanan.

Denius Wopka dalam pernyataanya menyebut operasi TNI semakin agresif. Penyergapan terjadi berkali-kali. Markas-markas mereka terus diburu. "Granat itu senjata mereka. Tapi takdir membalikkan keadaan," tutur Denius dengan nada yang sulit ditafsir—antara duka dan kecewa.

Nama Lamek Alipki Taplo bukan nama asing di kalangan intelijen keamanan. Ia figur sentral TPNPB sejak awal dekade 2010-an. Memimpin Kodap XV Ngalum Kupel, wilayah operasi strategis di perbatasan Papua Nugini. Aksi-aksinya tercatat rapi. Penyergapan aparat di Oksibil. Serangan di Kiwirok. Video-video pernyataan perang yang beredar luas.

Lamek bukan sekadar pemberontak biasa. Ia pemimpin lapangan berpengalaman. Wilayah Kodap XV dianggap basis terkuat TPNPB di Pegunungan Bintang. Pengaruhnya meluas hingga jaringan perbatasan timur Papua. Kehadirannya selalu jadi ancaman serius bagi operasi keamanan di kawasan itu.

Kini, tokoh itu tiada. Gugur bukan dalam pertempuran heroik yang ia bayangkan. Melainkan dalam insiden yang hampir absurd—tertimpa senjata lawan yang justru ia coba netralkan.

  • Mengapa TNI dan TPNPB Belum Beri Pernyataan Resmi?

Hingga berita ini disusun, keheningan masih menyelimuti. TNI belum mengeluarkan statemen apapun. Juru bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, juga belum angkat suara. Hanya video Denius Wopka yang beredar sebagai satu-satunya konfirmasi.

Keheningan ini mencurigakan sekaligus strategis. Bagi TNI, konfirmasi kematian petinggi musuh butuh verifikasi ketat. Bagi TPNPB, mengakui kematian panglima besar bisa melemahkan moral pasukan. Namun video internal yang bocor ke publik menunjukan retaknya kontrol informasi di tubuh kelompok bersenjata itu.

Ada yang bilang ini kemenangan psikologis bagi TNI. Ada juga yang melihatnya sebagai kecelakaan tragis tanpa unsur heroisme. Yang pasti, kematian Lamek Taplo menandai babak baru dalam konflik berkepanjangan di Pegunungan Bintang.

  • Apa Implikasi Kematian Lamek Taplo bagi Konflik Papua?

Kehilangan komandan lapangan sekaliber Lamek bukan perkara kecil. Struktur komando TPNPB di Kodap XV bakal goyah. Operasi-operasi terencana kemungkinan tertunda. Rekrutmen dan logistik bisa terganggu. Namun sejarah konflik bersenjata mengajarkan satu hal: sosok bisa gugur, ideologi tetap hidup.

Wilayah Pegunungan Bintang tetap rawan. Perbatasan dengan Papua Nugini tetap jadi koridor logistik dan pelarian. Jaringan TPNPB masih mengakar kuat di komunitas lokal. Kematian satu panglima bisa saja melahirkan panglima-panglima baru yang lebih radikal, lebih brutal, atau justru lebih terdesak.

Halaman:

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini