Sulawesitoday - Orasi tajam meluncur. Baskara Putra tampil tegas. Musisi kondang itu menyampaikan kekecewaannya. Lokasi aksi: depan Istana Negara. Waktu: Kamis, 15 Januari 2026. Momen istimewa peringatan 19 tahun Aksi Kamisan.
Video orasinya meledak. Media sosial dibanjiri unggahan. Akun @konserfeeds mengunggah cuplikannya Jumat kemarin. Vokalis Hindia itu terlihat emosional. Sorotan publik langsung menguat.
Baskara mengkritik keras anggapan keliru. "Aksi Kamisan bukan isu tahunan," tegasnya. Narasi meremehkan itu tersebar luas. Terutama menjelang momentum pemilu. Banyak komentar sinis bermunculan. Platform TikTok jadi ajang ejekan.
Apa yang Memicu Kekecewaan Baskara?
Kekecewaan musisi itu berawal jelas. Pemilu terakhir menjadi pemantiknya. Video Aksi Kamisan masuk TikTok. Komentar pedas langsung muncul. "Ah ini mah isu 5 tahunan," tulis netizen. "Yang digoreng tiap keluar pemilu saja," lanjutnya.
Baskara membaca komentar itu. Hatinya terasa sakit. "Saya yang tidak setiap minggu di sini, saya yang sakit hati bacanya," ungkapnya. Nada suaranya bergetar. Emosi menguasai panggung orasi.
Ia membayangkan perasaan aktivis. Mereka yang hadir setiap minggu. Mereka yang terorganisir rapi. "Saya nggak terbayang gimana rasanya," katanya. "Baca komentar seperti itu dari kawan-kawan yang konsisten ini."
Narasi "isu lima tahunan" dinilai keliru. Sangat mengecilkan esensi perjuangan. Para keluarga korban pelanggaran HAM berat terabaikan. Tragedi masa lalu terlupakan. Keadilan masih jauh panggang dari api.
Siapa Ibu Sumarsih dalam Cerita Baskara?
Baskara punya kedekatan personal. Dengan perjuangan keluarga korban. Ia pernah menciptakan lagu khusus. Terinspirasi dari kisah Ibu Sumarsih. Seorang ibu tangguh dari korban Tragedi Semanggi I.
Anaknya meninggal dalam peristiwa kelam. Tahun 1998 silam. Peluru nyasar ke tubuh sang anak. Nyawa melayang sia-sia. Keadilan tak kunjung datang.
"Saya minta tolong Bu Sumarsih," cerita Baskara. "Yang cerita langsung di albumnya." Kolaborasi itu jadi bentuk keberpihakan. Musik sebagai medium perjuangan. Seni untuk kemanusiaan.
"Saya selalu bilang dan selalu percaya," lanjut Baskara. "Keberpihakan bisa dilakukan bahkan di ruang budaya populer." Keyakinannya teguh. Seni bukan sekadar hiburan. Tapi juga alat perubahan sosial.
Mengapa Aksi Kamisan Bertahan 19 Tahun?
Artikel Terkait
Gubernur Anwar Hafid Menggugat Warisan Kekuasannya Sendiri
Morowali: Ketika yang Mengkritik Tambang Adalah yang Menikmati Izinnya
Kejar PAD Naik, DPRD Parigi Moutong Belajar Kelola Pajak Reklame ke Makassar
Gaji Menguap di Awal Tahun, Ketika ASN di Sulteng Harus Meminjam untuk Hidup
264 Nyawa per 100 Ribu Kelahiran, Pirna Adalah Wajah dari Angka Kematian Ibu di Sulteng