Feature Editorial Sulawesitoday - Malam 14 Januari 2026, sebuah sepeda motor melaju perlahan menembus gelap di tanjakan Gunung Patah, Kecamatan Ulubongka. Di atas jok belakang, jenazah Pirna (19) disangga papan kayu, diikat tali tambang. Tubuhnya terguncang tiap kali roda menyentuh lubang. Tak ada ambulans. Tak ada mobil jenazah. Bahkan mobil biasa pun tak sanggup menembus jalan yang sudah seperti jurang berlumpur itu.
Tiga hari sebelumnya, Pirna masih hidup. Ia baru saja melahirkan di kebun dengan bantuan sando desa pada 5 Januari. Tapi pendarahan hebat datang kemudian. Ketika keluarga akhirnya membawanya ke Puskesmas Dataran Bulan pada 14 Januari, ambulans sedang mengangkut pasien lain. Seorang warga meminjamkan mobilnya. Pirna dirujuk ke RSUD Ampana. Nyawanya tak sampai ke sana. Ia meninggal di Popanga, di tengah jalan.
Kini, yang tersisa hanyalah video viral yang diunggah pertama kali oleh akun Hasbi Toana: jenazah ibu muda dibawa pulang dengan motor, disaksikan ribuan warganet yang marah, sedih, dan bertanya: Di mana negara?
Angka yang Tak Bisa Dibantah
Pirna bukan kasus pertama. Ia bahkan bukan yang terakhir.
Sulawesi Tengah tercatat memiliki angka kematian ibu (AKI) sebesar 264 per 100.000 kelahiran hidup berdasarkan data Sensus Penduduk 2020 dari Badan Pusat Statistik. Angka ini menempatkan Sulteng di peringkat keenam provinsi dengan AKI tertinggi di Indonesia.
Secara nasional, tren kematian ibu justru meningkat. Pada 2023, tercatat 4.129 kasus kematian ibu di seluruh Indonesia, dengan faktor risiko utama adalah perdarahan dan anemia—dua kondisi yang seharusnya bisa ditangani jika akses medis tersedia tepat waktu.
Di Dusun Kalamba, Desa Uematopa, Kecamatan Ulubongka, Kabupaten Tojo Una-Una, akses itu tidak ada. Yang ada hanya jalan rusak parah, ambulans tunggal yang sedang dipakai pasien lain, dan waktu yang terus berjalan sambil membawa nyawa pergi.
Jalan yang Memutus Harapan
Shumy Mokodompit, salah satu warga yang menyaksikan evakuasi jenazah Pirna, menulis di kolom komentar unggahan viral tersebut: "Sudah beberapa kali begini. Tolong lihat kondisi jalan kami."
Kalimat itu bukan keluhan biasa. Itu adalah kesaksian dari wilayah yang terputus dari layanan dasar. Jalan menuju Uematopa hanya bisa dilalui kendaraan tertentu. Licin, berlubang, dan saat hujan berubah menjadi jalur berlumpur yang berbahaya. Mobil roda empat sulit masuk. Ambulans? Hampir mustahil.
Ketika malam tiba dan jenazah harus dipulangkan, satu-satunya pilihan adalah membawa Pirna dengan sepeda motor, disangga papan, dikawal masyarakat menembus gelap dan tanjakan Gunung Patah.
Inilah realitas yang jarang terliput: ada wilayah di Indonesia di mana jalan bukan sekadar infrastruktur, tapi penentu hidup dan mati.
Profil Kesehatan yang Menyisakan Pertanyaan
Artikel Terkait
Pesta di Meja Rapat, Saat Anggaran Makan Pemda Tembus Rp1 Miliar Sehari
Gubernur Anwar Hafid Menggugat Warisan Kekuasannya Sendiri
Morowali: Ketika yang Mengkritik Tambang Adalah yang Menikmati Izinnya
Kejar PAD Naik, DPRD Parigi Moutong Belajar Kelola Pajak Reklame ke Makassar
Gaji Menguap di Awal Tahun, Ketika ASN di Sulteng Harus Meminjam untuk Hidup