Tapi besok, atau bulan depan, ketika viral mereda, apakah jalan di Uematopa akan diperbaiki? Apakah ambulans akan bertambah? Apakah akan ada ibu lain yang melahirkan di kebun, berdarah di rumah, dan mati di tengah jalan?
Atau pertanyaan yang lebih mendasar: berapa banyak Pirna lagi yang harus mati sebelum negara benar-benar hadir—bukan setelah viral, tapi sebelum terlambat?
Baca Juga: Lara di Tanjab Timur, Saat Celurit Guru Membalas Pengeroyokan Siswa
Artikel Terkait
Pesta di Meja Rapat, Saat Anggaran Makan Pemda Tembus Rp1 Miliar Sehari
Gubernur Anwar Hafid Menggugat Warisan Kekuasannya Sendiri
Morowali: Ketika yang Mengkritik Tambang Adalah yang Menikmati Izinnya
Kejar PAD Naik, DPRD Parigi Moutong Belajar Kelola Pajak Reklame ke Makassar
Gaji Menguap di Awal Tahun, Ketika ASN di Sulteng Harus Meminjam untuk Hidup