Profil Kesehatan Sulteng 2024 dari Dinas Kesehatan Provinsi bisa menjadi acuan awal untuk memahami kondisi layanan kesehatan di daerah ini. Namun laporan lengkap 2025 kemungkinan baru akan tersedia pada akhir tahun ini.
Yang jelas dari lapangan: hanya ada satu ambulans di Puskesmas Dataran Bulan untuk melayani enam desa di Kecamatan Ulubongka dengan populasi lebih dari 8.000 jiwa. Ketika ambulans itu sedang digunakan—seperti pada 14 Januari lalu—warga harus mencari alternatif sendiri. Meminjam mobil. Menyewa ojek. Atau dalam kasus terburuk, membawa jenazah dengan motor.
Belum ada laporan resmi yang mengkuantifikasi berapa banyak pasien di Sulteng yang meninggal akibat keterlambatan penanganan medis yang disebabkan oleh kondisi jalan rusak. Namun isu ini terus berulang, terutama di daerah pedesaan dan pegunungan seperti Ulubongka.
Suara yang Terabaikan
Tragedi Pirna langsung memantik gelombang keprihatinan di media sosial. Banyak warganet menilai bahwa kejadian ini harus menjadi alarm keras bagi pemangku kepemimpinan di Sulawesi Tengah. Bukan sekadar catatan, tetapi panggilan darurat untuk hadir di lapangan dan memastikan warga terpencil memiliki akses kesehatan dan transportasi yang layak.
Namun kemarahan di jagad maya tidak selalu diterjemahkan menjadi kebijakan di lapangan. Video viral datang dan pergi. Janji-janji diucapkan. Lalu semuanya kembali sunyi, hingga ada korban berikutnya.
Pirna adalah wajah dari pola yang terus berulang: warga terpencil yang berjualan sendirian di tengah keterbatasan, berharap tangan negara benar-benar menjangkau mereka.
Ironi yang Tertinggal
Ada yang aneh dalam tragedi ini.
Pirna melahirkan di kebun karena tak ada fasilitas kesehatan yang memadai di desanya. Ia dirujuk ke puskesmas karena pendarahan, tapi ambulans sedang dipakai orang lain. Ia dibawa ke rumah sakit dengan mobil pinjaman warga, tapi nyawanya tak sampai. Jenazahnya dipulangkan dengan motor karena jalan terlalu rusak untuk mobil.
Setiap langkahnya terhalang oleh sistem yang seharusnya melindunginya.
Sulteng berada di peringkat enam provinsi dengan angka kematian ibu tertinggi, tapi akses ke layanan kesehatan masih sangat terbatas di wilayah terpencil. Ambulans ada, tapi cuma satu untuk ribuan jiwa. Puskesmas ada, tapi jaraknya berjam-jam dari rumah warga. Rumah sakit ada, tapi jalan menuju ke sana seperti jurang.
Dan Pirna? Ia hanya satu dari ratusan ibu yang mati dalam diam, jauh dari sorotan, sebelum videonya viral.
Pertanyaan yang Masih Tergantung
Kini, video jenazah Pirna di atas motor telah ditonton jutaan kali. Warganet marah. Media meliput. Pejabat mungkin akan memberi pernyataan.
Artikel Terkait
Pesta di Meja Rapat, Saat Anggaran Makan Pemda Tembus Rp1 Miliar Sehari
Gubernur Anwar Hafid Menggugat Warisan Kekuasannya Sendiri
Morowali: Ketika yang Mengkritik Tambang Adalah yang Menikmati Izinnya
Kejar PAD Naik, DPRD Parigi Moutong Belajar Kelola Pajak Reklame ke Makassar
Gaji Menguap di Awal Tahun, Ketika ASN di Sulteng Harus Meminjam untuk Hidup