Konsistensi adalah kunci. Sudah 19 tahun lamanya. Setiap Kamis tanpa henti. Di depan Istana Negara. Tuntutan atas penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat masa lalu disuarakan.
Awalnya hanya korban. Dan keluarga korban saja. Kini kalangan lebih luas hadir. Generasi muda ikut bersuara. Mereka datang dari berbagai kota. Cara penyampaian tuntutan pun diperbarui.
Aksi ini mewarisi sejarah panjang. Pelanggaran HAM masa lalu masih menganga. Kasus-kasus belum terselesaikan. Pelaku berkeliaran bebas. Keluarga korban masih menunggu keadilan.
Baskara menegaskan posisinya. Sebagai musisi yang konsisten. Menyuarakan isu kemanusiaan. Keadilan bukan sekadar wacana. Tapi harus diwujudkan nyata.
"Jadi untuk teman-teman semua," ajak Baskara. "Di luar sana juga yang mendengarkan." Ia berbicara kepada rekan seniman. Yang bergerak di budaya populer.
"Jangan pernah berpikir kalau keberpihakan tidak bisa dilakukan," tegasnya. Suara menggelegar. "Itu selalu bisa dilakukan selama kita mau."
Orasi ditutup penuh makna. "Melakukan keberpihakan tersebut, terima kasih," pungkasnya. Tepuk tangan membahana. Semangat perjuangan menyala kembali.
Baca Juga: 264 Nyawa per 100 Ribu Kelahiran, Pirna Adalah Wajah dari Angka Kematian Ibu di Sulteng
Artikel Terkait
Gubernur Anwar Hafid Menggugat Warisan Kekuasannya Sendiri
Morowali: Ketika yang Mengkritik Tambang Adalah yang Menikmati Izinnya
Kejar PAD Naik, DPRD Parigi Moutong Belajar Kelola Pajak Reklame ke Makassar
Gaji Menguap di Awal Tahun, Ketika ASN di Sulteng Harus Meminjam untuk Hidup
264 Nyawa per 100 Ribu Kelahiran, Pirna Adalah Wajah dari Angka Kematian Ibu di Sulteng