• Senin, 20 Juli 2026

Pamit Umroh, Salim A Fillah Tinggalkan Jembatan untuk Tujuh Desa di Aceh

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Jumat, 16 Januari 2026 | 18:43 WIB
Salim A Fillah pamit sementara dari Aceh untuk umroh. Jembatan 7 desa, sekolah darurat, dan masjid telah dibangun untuk korban bencana.
Salim A Fillah pamit sementara dari Aceh untuk umroh. Jembatan 7 desa, sekolah darurat, dan masjid telah dibangun untuk korban bencana.

Sulawesitoday - Bencana datang tanpa permisi. Banjir bandang menerjang Aceh akhir November 2025 silam. Puluhan nyawa melayang. Infrastruktur hancur. Namun di tengah puing, ada tangan-tangan yang sibuk membangun.

Salim A Fillah adalah salah satunya. Pendakwah kondang ini memilih turun langsung. Bersama tim relawan, ia tak sekadar memberi bantuan sesaat. Mereka membangun. Memperbaiki. Menghidupkan kembali harapan yang sempat padam.

Kini, setelah hampir dua bulan berkutat di medan bencana, Salim mengumumkan kepergian sementara. Bukan untuk pulang, melainkan menunaikan ibadah umroh. Pengumuman itu ia sampaikan melalui akun Instagram @salimafillah_official, Jumat, 16 Januari 2026.

"Saya izin pamit sebentar dari Aceh untuk menjalankan amanah membersamai umroh," tulisnya. "Insya Allah kami akan kembali lagi."

Kepergian Salim bukan berarti program terhenti. Justru sebaliknya. Ia memastikan semua roda terus berputar. "Sebelum berangkat, kami sudah pastikan semua program terus berjalan dan memberikan manfaat yang terus mengalir," tegasnya meminta doa.

Apa yang Sudah Dibangun untuk Warga Aceh?

Jejak Salim dan tim terukir nyata. Bukan sekadar janji manis di media sosial. Mereka membangun jembatan penghubung tujuh desa yang terputus akibat banjir. Kini, jembatan itu telah bisa dilalui kendaraan roda empat.

"Jembatan untuk tujuh desa sudah bisa dilalui mobil," ungkap Salim. "Warga bisa kembali beraktivitas normal."

Namun pekerjaan belum usai. Masih banyak desa lain yang membutuhkan. Pembangunan jembatan berlanjut ke lokasi-lokasi yang belum terjangkau. "Pembangunan jembatan dan membuka akses roda empat berlanjut ke desa-desa lainnya," jelasnya dengan nada optimis.

Banjir bandang November lalu memang brutal. Arus deras menyapu bersih infrastruktur vital. Jalan terputus. Jembatan ambruk. Ribuan warga terisolasi. Akses bantuan pun terhambat.

Di sinilah peran relawan seperti Salim menjadi krusial. Mereka tak menunggu pemerintah bekerja sendiri. Gotong royong menjadi kunci. Swadaya masyarakat digerakkan. Hasilnya, pemulihan berjalan lebih cepat dari perkiraan.

Bagaimana Nasib Pendidikan Anak-Anak Korban Bencana?

Salim paham betul. Bencana tak boleh menghentikan masa depan anak-anak. Pendidikan harus tetap berjalan. Maka, timnya mendirikan sekolah-sekolah darurat di beberapa titik.

"Memperbanyak sekolah darurat agar pendidikan terus berjalan," ujarnya singkat namun tegas.

Halaman:

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini