• Selasa, 21 Juli 2026

Pamit Umroh, Salim A Fillah Tinggalkan Jembatan untuk Tujuh Desa di Aceh

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Jumat, 16 Januari 2026 | 18:43 WIB
Salim A Fillah pamit sementara dari Aceh untuk umroh. Jembatan 7 desa, sekolah darurat, dan masjid telah dibangun untuk korban bencana.
Salim A Fillah pamit sementara dari Aceh untuk umroh. Jembatan 7 desa, sekolah darurat, dan masjid telah dibangun untuk korban bencana.

Sekolah darurat bukan solusi permanen. Namun dalam situasi darurat, ini adalah pilihan terbaik. Anak-anak tetap bisa belajar. Guru tetap bisa mengajar. Rutinitas normal perlahan pulih.

Tak hanya sekolah, Salim juga fokus pada pemulihan masjid. Bangunan ibadah yang rusak dibersihkan. Sound system dipasang. Peralatan sholat dilengkapi. "Menghidupkan kembali masjid dengan membersihkan serta pengadaan sound system dan peralatan sholat," terangnya.

Ada dimensi spiritual yang tak bisa diabaikan. Masjid bukan hanya tempat ibadah. Ia adalah pusat komunitas. Tempat warga berkumpul. Berdiskusi. Saling menguatkan di masa sulit.

Bahkan santri dari Pondok Pesantren Media (PM3) yang dibawa Salim turut berkontribusi. Mereka menghidupkan kembali Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) di desa-desa terdampak. "Santri PM3 kami menghidupkan kembali TPA desa-desa terdampak," tandas Salim.

Mengapa Warganet Berduyun Memberikan Dukungan?

Postingan Salim bukan sekadar laporan kegiatan. Ada kejujuran di dalamnya. Ada transparansi. Warganet pun merespons dengan hangat. Hingga Jumat sore pukul 15.00 WIB, unggahan itu telah disukai 20,1 ribu pengguna Instagram.

Kolom komentar dipenuhi doa dan dukungan. "Sehat-sehat, Ustaz bersama tim, juga saudara-saudara kita di Aceh," tulis akun @agnesrulydamayanti.

Warganet lain, @abdulhafidz, menambahkan: "Alhamdulillah, terima kasih untuk Ustaz dan semua yang telah membantu korban bencana, semoga dipenuhi berkah."

Respons positif ini bukan tanpa alasan. Di era dimana banyak aksi kemanusiaan hanya jadi konten sesaat, Salim memilih jalan berbeda. Ia bekerja nyata. Hasilnya terukur. Transparansi dijaga.

Kepergian Salim untuk umroh justru menunjukkan keseimbangan. Ia tak lupa kewajiban spiritualnya. Namun tanggung jawab kemanusiaan tetap diprioritaskan. Semua program dipastikan jalan sebelum ia berangkat.

Inilah yang membedakan aksi kemanusiaan sejati dengan sekadar pencitraan. Komitmen berkelanjutan. Bukan viral sehari, lalu hilang begitu saja.

Baca Juga: Viral! Baskara Putra Kritik Aksi Kamisan Dianggap Isu Lima Tahunan di Depan Istana Negara

Halaman:

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini