Mereka sudah lama gelisah. Bukan karena anti-pembangunan. Bukan karena tidak ingin STAIN berkembang. Tapi justru karena mereka paham betul: sebuah lembaga pendidikan tinggi seharusnya menjadi contoh — bukan pengecualian — dalam hal kepatuhan terhadap hukum.
Kampus mendidik tentang nilai-nilai. Tentang kebenaran. Tentang aturan yang harus ditegakkan. Lucu rasanya jika justru yang mengajarkan itu abai terhadap aturan yang sudah jelas tertulis.
Ironi yang tak perlu diperdebatkan terlalu panjang.
Yang paling mencolok dari seluruh polemik ini justru bukan soal AMDAL-nya saja.
Melainkan soal ketiadaan keterangan resmi dari pimpinan STAIN Majene. Hingga berita ini diturunkan, tak ada satu pun pernyataan resmi dari pihak kampus — tidak soal proses penyusunan AMDAL, tidak soal perizinan lingkungan, tidak soal apa pun.
Diam.
Padahal, dalam situasi seperti ini, diam bukan jawaban. Diam justru mempertebal tanda tanya.
Menu MBG Berulat di SDN 4 Majene: Siswa Trauma, Orang Tua Desak Evaluasi SPPG
Artikel Terkait
Puting Beliung Bikin Warung di Sendana Majene Porak-poranda, Kerugian Rp20 Juta
Hujan, Limbah, dan Diamnya DLHK Majene: Warga Banggae Timur Mengeluh Tak Didengar
Beras Mahal di Majene Rp420 Ribu per 25 Kg, Pemerintah Diminta Bertindak Cepat
Target Juara, 12 Atlet Pickleball Parimo Siap Taklukkan Kejuaraan Unsulbar di Majene
Menu MBG Berulat di SDN 4 Majene: Siswa Trauma, Orang Tua Desak Evaluasi SPPG