• Selasa, 21 Juli 2026

Dua Nelayan Bantaya Hilang di Teluk Tomini, Tim SAR Gabungan Turun Mencari

.
Muhammad Aqil Azizi, Sulawesi Today
- Sabtu, 14 Maret 2026 | 11:23 WIB
Dua nelayan muda asal Kelurahan Bantaya, Parigi Moutong hilang di Teluk Tomini sejak 10 Maret 2026. Tim gabungan Basarnas, TNI-AL, dan BPBD masih melakukan pencarian.
Dua nelayan muda asal Kelurahan Bantaya, Parigi Moutong hilang di Teluk Tomini sejak 10 Maret 2026. Tim gabungan Basarnas, TNI-AL, dan BPBD masih melakukan pencarian.

Sulawesitoday - Dua pemuda dari Kelurahan Bantaya, Kecamatan Parigi, mendorong perahu kecil mereka ke laut. Gilang, 21 tahun. Agil, 19 tahun. Keduanya nelayan. Keduanya bersaudara dalam profesi, bertetangga dalam alamat — sama-sama RT 12, RW 06.

Perahu itu mengarah ke Perairan Teluk Tomini. Jaraknya sekitar empat jam dari daratan. Bukan perjalanan baru. Bukan rute yang asing. Sudah berkali-kali dilayari.

Biasanya, satu malam saja. Besok pagi sudah kembali. Membawa ikan. Membawa rezeki.

Tapi kali ini berbeda.

Rabu berlalu. Tidak ada kabar.

Kamis berlalu. Masih sunyi.

Jumat, 13 Maret 2026, pukul 22.55 WITA, barulah laporan itu masuk ke PUSDALOPS BPBD Kabupaten Parigi Moutong. Tiga hari lebih. Gilang dan Agil tak kunjung pulang. Keluarga panik. Warga nelayan di sekitar Bantaya mulai berbisik-bisik.

"Mereka belum balik. Sudah lebih dari tiga hari," begitu isi laporan yang diterima petugas malam itu.

Mesin pencarian pun digerakkan.

Basarnas turun. TNI Angkatan Laut bergerak. Polisi Perairan dan Udara (Pol-Airud) ikut serta. Tim Reaksi Cepat BPBD mempersiapkan diri di darat. Keluarga korban menunggu di pinggir dermaga. Masyarakat nelayan setempat membantu semampu mereka — mengarahkan, menunjuk area yang biasa didatangi, berbagi pengetahuan tentang arus dan angin.

Teluk Tomini luas. Sangat luas.

Perahu kecil di tengah teluk yang dalam — bukan perkara mudah untuk ditemukan. Apalagi jika tidak ada sinyal, tidak ada alat komunikasi yang mumpuni. Dan memang, itulah yang menjadi catatan penting dalam laporan BPBD: kebutuhan mendesak saat ini adalah alat komunikasi lapangan.

Kita sering bicara soal keselamatan nelayan. Kita sering menyebut angka kecelakaan laut. Tapi apakah kita benar-benar serius membekali mereka?

Gilang berangkat tanpa radio komunikasi. Agil pun demikian. Dua anak muda yang hidupnya bergantung pada laut, tanpa satu pun alat yang bisa membunyikan tanda bahaya ketika perahu mereka mengalami sesuatu di tengah Teluk Tomini.

Halaman:

Editor: Muhammad Aqil Azizi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini