• Selasa, 21 Juli 2026

Anggaran Transfer Daerah 2026 Rp692,9 T: Rincian Lengkap DAU, DAK, DBH dan Dampaknya ke Sulteng

.
Aswadin, Sulawesi Today
- Jumat, 3 Oktober 2025 | 15:08 WIB
Anggaran TKD 2026 naik jadi Rp692,9 T setelah revisi DPR. Tapi tetap turun Rp155 T dari 2025. Parigi Moutong menanti alokasi pasti
Anggaran TKD 2026 naik jadi Rp692,9 T setelah revisi DPR. Tapi tetap turun Rp155 T dari 2025. Parigi Moutong menanti alokasi pasti

Kabupaten Donggala, tetangga Parigi Moutong, kehilangan dana TKD lebih dari Rp239 miliar. Pemangkasan ini tentu berdampak pada kemampuan daerah membiayai program pembangunan. Infrastruktur dan pelayanan publik bisa terancam.

Pemerintah daerah kini harus lebih selektif. Prioritas utama kemungkinan besar belanja pegawai dan pelayanan publik dasar. Program-program baru mungkin harus ditunda atau dikurangi skalanya.

Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan telah menerbitkan dokumen rincian alokasi sementara. Dokumen final yang memuat pagu alokasi definitif per daerah akan segera dirilis. Parigi Moutong dan daerah lain masih menanti kepastian angka pasti mereka.

  • Apa Dampak Pemangkasan Anggaran bagi Daerah?

Penurunan anggaran TKD bukan isue sepele. Daerah-daerah harus memutar otak ekstra keras. Belanja pegawai yang biasanya menjadi pos terbesar harus tetap dibayar. Pembangunan infrastruktur bisa terhambat.

Kekhawatiran muncul dari berbagai pihak. Pemerintah daerah khawatir standar pelayanan minimal tidak bisa dipenuhi. Masyarakat bisa merasakan dampaknya secara langsung—entah itu layanan kesehatan, pendidikan, atau infrastruktur jalan.

Namun pemerintah pusat mencoba menenangkan. Revisi dan penambahan anggaran dari Rp650 triliun menjadi Rp692,9 triliun diharapkan dapat mempercepat pembangunan di daerah. Setidaknya, angka ini lebih baik dari usulan awal yang sempat bikin panik.

DPR dan pemerintah juga berkomitmen memantau pelaksanaan anggaran. Evaluasi akan dilakukan secara berkala. Jika ada kendala, pemerintah berjanji akan mencari solusi tambahan.

  • Mengapa Anggaran TKD 2026 Turun Drastis?

Pertanyaan besar muncul di benak banyak pihak. Kenapa anggaran TKD 2026 turun drastis dibanding tahun sebelumnya? Pemerintah punya alasan tersendiri. Konsolidasi fiskal menjadi salah satu pembenaran utama.

Pendapatan negara yang belum optimal menjadi pertimbangan. Pemerintah harus berhemat di berbagai pos. Transfer ke daerah menjadi salah satu target efisiensi—meski ini kebijakan yang kontroversial.

Menteri Keuangan Purbaya menjelaskan angka awal Rp650 triliun hanya proyeksi. Angka tersebut masih bisa disesuaikan berdasarkan kondisi ekonomi dan kebutuhan daerah. Fleksibilitas ini yang akhirnya memungkinkan revisi ke atas.

Kritik datang dari berbagai kalangan. Akademisi dan praktisi pemerintahan daerah menilai pemangkasan ini kontraproduktif. Daerah butuh dana untuk menjalankan program pembangunan. Tanpa transfer yang cukup, target pembangunan nasional bisa meleset.

Namun pemerintah tetap pada pendiriannya. Efisiensi harus dilakukan di semua lini. Daerah diminta lebih kreatif menggali pendapatan asli daerah (PAD). Ketergantungan pada transfer dari pusat harus dikurangi secara bertahap.

Baca Juga: Cegah Chaos Regulasi, Kanwil Kemenkum Sulteng Fasilitasi Harmonisasi Tiga Ranperbup Parimo

Halaman:

Editor: Aswadin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Artikel Terkait

Terkini