Ancaman sesungguhnya ada pada kontaminasi air bersih. Cairan pembusukan bisa mencemari sumber air warga. Terutama di kawasan padat penduduk seperti Buduran. Sanitasi yang kurang memadai memperburuk kondisi.
Diare, kolera, tifoid, hingga hepatitis A bisa muncul kemudian. Bukan dari jenazahnya, melainkan air tercemar. Inilah yang diwaspadai BNPB dan stakeholder terkait.
Strategi mitigasi segera diterapkan. Penyemprotan insektisida dan disinfektan diperbanyak. Area pembersihan dan kawasan sekitar jadi prioritas utama. Pengelolaan lingkungan diperketat maksimal.
Pusat Krisis Kesehatan RI ikut turun tangan. Bersama BPBD Jawa Timur, mereka menyusun protokol pencegahan. Tujuannya satu: mencegah penyakit lanjutan dari pembusukan jenazah.
Peralatan tambahan juga dikirim ke lokasi. APD lengkap untuk semua personel. Kacamata google, sarung tangan khusus, masker berkualitas. Sepatu boots anti air dan kebutuhan sekali pakai lainnya. Standar prosedur keselamatan harus dipenuhi.
-
Bagaimana Kondisi Psikologis Keluarga Korban?
Kendaraan darurat terus berlalu lalang. Ambulance membawa jenazah, dump truk angkut puing. Suara bising mesin tak pernah berhenti. Pemandangan itu bisa memicu trauma mendalam.
Keluarga korban yang menunggu sejak hari pertama mulai terlihat lelah. Wajah mereka pucat penuh kecemasan. Harapan dan putus asa bercampur dalam tatapan mata.
Dinas terkait membuka layanan psikososial gratis. Lokasinya di posko kesehatan tak jauh dari TKP. Siapa saja bisa mengaksesnya tanpa biaya sepeserpun. Pendampingan mental sangat dibutuhkan saat ini.
Wali santri mendapat perhatian khusus. Pijat refleksi gratis disediakan untuk mereka. Bekam tradisional juga ditawarkan sebagai alternatif. Banyak yang mengeluhkan badan pegal setelah duduk lama menunggu.
"Kami pahami beban mental yang mereka tanggung," ungkap petugas Puskris dengan empati. Layanan ini diharapkan bisa meringankan sedikit penderitaan mereka.
BNPB, Basarnas, Dinas Kesehatan, TNI, dan Polri bahu-membahu. Semua elemen bergerak dalam satu komando. Koordinasi berjalan meskipun ada hambatan di sana-sini.
Mereka memohon dukungan dan doa dari seluruh masyarakat. Perjuangan kemanusiaan ini butuh energi kolektif. Agar semua korban bisa dipulangkan ke keluarga. Agar operasi ini tuntas dengan hasil maksimal.
Detik demi detik berlalu. Reruntuhan perlahan terangkat. Harapan masih menyala di tengah kepungan duka. Sidoarjo menahan napas, menunggu kabar kepastian dari balik puing musala yang runtuh itu.
Keadilan bagi korban adalah menyelesaikan evakuasi ini sampai tuntas. Tidak ada yang tertinggal. Tidak ada yang terlupakan. Mereka berhak pulang dengan terhormat.
Artikel Terkait
Menkeu Purbaya Tawarkan Ampunan, Produsen Rokok Ilegal Diajak Masuk Kawasan Industri
Saling Jawab Isu Kilang Minyak: Menkeu Purbaya vs Pertamina dan Menteri ESDM Bahlil
Aksi Tagih Paksa Nasabah Makin Brutal, Debt Collector Berani Adu Mulut dengan Polisi di Tangerang
36 Santri Tewas, 27 Orang Masih Tertimbun Reruntuhan Ponpes Al Khoziny Sidoarjo - Evakuasi 24 Jam Nonstop
DPRD Parimo Usulkan Moratorium Program MBG Pasca Dugaan Keracunan Siswa