Logikanya sederhana namun efektif. Ketika negara berani berinvestasi bersama swasta, itu mengirimkan pesan kuat. Proyek tersebut dipastikan akan berjalan lancar. Mendapat dukungan penuh dari pemerintah.
Danantara tidak selalu harus menjadi pemegang saham mayoritas. Bahkan dengan posisi minoritas sekalipun, kehadirannya sudah cukup memberikan jaminan.
"Kita tidak harus mayoritas, kita bisa minoritas, tapi kita sama-sama investasi. Ini memberi kepercayaan diri kalau dari negara berani, berarti mereka akan memastikan proyek ini akan berjaya dengan baik," terang Rosan.
Strategi co-investment ini cerdas. Danantara menjadi semacam stamp of approval yang membuat investor swasta lebih percaya diri menanamkan modalnya di Indonesia.
-
Apakah Target 8 Persen Bisa Dicapai Tahun Depan?
Realitas berbicara lain. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan pandangan yang lebih membumi soal timeline pencapaian.
"Nggak mungkin tahun depan, kan. Nggak mungkin setahun," kata Purbaya kepada wartawan di Kantor DJP Jakarta, Rabu, 15 Oktober 2025.
Kejujuran Purbaya patut diapresiasi. Ia tidak memberikan janji manis yang tidak realistis. Sebaliknya, ia menawarkan roadmap yang terukur.
Tahun ini ekonomi masih bergerak di kisaran 5 persen. Target akhir triwulan adalah mencapai 5,5 persen. Tahun depan, pemerintah akan mendorong pertumbuhan menuju 6 persen.
"Tahun depannya lagi dengan perbaikan iklim investasi dan lain-lain harusnya bisa lebih cepat," ujar Purbaya.
Proyeksi Menkeu cukup jelas. Dalam dua tahun ke depan, pertumbuhan ekonomi diharapkan berada di rentang 6 hingga 6,5 persen. Baru setelah itu, akselerasi penuh menuju 8 persen bisa dilakukan.
"Akhir pemerintahan bisa mendekati," kata Purbaya merujuk pada target 8 persen tersebut.
Pendekatan bertahap ini lebih masuk akal. Ekonomi bukan mesin yang bisa langsung dipercepat dengan sekali injak gas. Ada banyak variabel yang harus diselaraskan.
-
Mengapa Pertumbuhan Ekonomi Harus Diikuti Pertumbuhan Sosial?
Rosan Roeslani punya pandangan menarik soal pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, angka 8 persen bukan sekadar pencapaian statistik. Ia harus disertai dengan pertumbuhan manusianya.
"Apabila manusianya ikut tumbuh bersama dengan kita, tumbuh dalam arti kata yang luas, wawasan, tumbuh dalam pemahaman," jelas Rosan.
Maksudnya jelas. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tanpa peningkatan kapasitas sumber daya manusia hanya akan menciptakan ketimpangan baru.
Artikel Terkait
Video Viral Ketua Komisi III DPRD Gorontalo Utara Dheninda Chaerunnisa Picu Polemik Etika Publik
Tanpa Klarifikasi Resmi, Guru SMKN 7 Palembang Terseret Kasus Fitnah Murid - Orangtua Pilih Jalur Hukum
Warga Kampung Sadang Bertahan di Zona Radiasi Cesium-137, Relokasi Ditolak Mentah-Mentah
Rakhmat Renaldy Rancang PERMATA, Perisai Digital Tutup Kebocoran Milyaran Rupiah dari Fidusia
Ledakan Dahsyat Tabung Gas Porak-Porandakan 6 Rumah di Cengkareng, Nenek 73 Tahun Kritis