Kata "menjarah" mungkin terlalu keras. Istilah itu berkonotasi destruktif. Padahal warga hanya mengambil makanan. Mereka tak merusak apapun. Konteks bencana membuat situasi berbeda. "Sehingga itu yang dilakukan dan itu yang sebagian viral di medsos," tambah Suharyanto.
Bagaimana Kronologi Lengkap Kejadian Itu?
Sabtu sore, 29 November 2025. Sibolga masih terendam banjir. Sebagian wilayah terisolasi. Minimarket di pinggir jalan menjadi sasaran. Puluhan warga korban banjir datang.
Video yang beredar memperlihatkan detail. Orang berbondong-bondong masuk toko. Mereka mengambil berbagai kebutuhan. Beras jadi prioritas utama. Minyak goreng diborong. Galon air mineral tak ketinggalan. Makanan siap saji disapu bersih.
Tidak ada kekerasan fisik. Tidak ada perusakan properti. Yang terlihat: kepanikan kolektif. Warga bergerak cepat namun tidak destruktif. Mereka hanya ingin bertahan hidup.
Video cepat menyebar. Platform Instagram jadi medium utama. Netizen bereaksi beragam. Ada yang mengkritik warga. Ada pula yang berempati. Debat pun tak terhindarkan.
Mengapa Distribusi Logistik Terhambat?
Bencana meninggalkan jejak masif. Jalan utama tertimbun material longsor. Jembatan beberapa rusak parah. Akses ke Sibolga hampir mustahil. Ini yang membuat logistik tersendat.
Pemerintah provinsi punya stok memadai. Pusat sudah kirim bantuan. Namun semua tertahan di Medan. Tim mencoba berbagai cara. Helikopter jadi opsi. Namun cuaca kurang mendukung. Jalur laut juga dipertimbangkan.
Akhirnya, rute Subulussalam dipilih. Ini jalur memutar lewat Aceh. Jarak lebih jauh. Waktu tempuh lebih lama. Tapi ini satu-satunya jalan. "Maka kita dari Sumut, ambil jalur arah Subulussalam, Aceh," kata Wagub Surya.
Komunikasi jadi masalah tambahan. Beberapa wilayah kehilangan sinyal. Koordinasi jadi sulit. Tim tidak tahu kondisi riil di lapangan. "Sedangkan komunikasi agak sulit, tapi baik dari pusat atau provinsi masih terus di lapangan," jelas Surya.
Apa Langkah Pemerintah Selanjutnya?
Pemerintah berjanji percepat distribusi. Tim gabungan terus bergerak. BNPB memobilisasi sumber daya. TNI dan Polri turun tangan. Relawan juga berdatangan.
Wagub Surya meminta warga bersabar. Bantuan pasti datang. "Jadi mohon bersabar dan tenang, mudah-mudahan (bantuan logistik) bisa secepatnya," pintanya.
Prioritas pertama: makanan dan air. Obat-obatan menyusul kemudian. Tenda pengungsian sedang disiapkan. Dapur umum akan diaktifkan. Semua demi warga terdampak.
Artikel Terkait
Proyek Gedung Perpustakaan Parimo Terancam Putus Kontrak Gara-Gara Kaca, PPK vs Kontraktor
Kemenhub Diam-Diam Cabut Izin Bandara IMIP Sejak Oktober, Jauh Sebelum Polemik Mencuat
Wabup Parimo Disebut Tekan PPK Cairkan Dana Proyek Perpustakaan
Tragedi Banjir Bandang Sumatera Telan 303 Nyawa, Ratusan Orang Masih Hilang
Ray Rangkuti Sebut Ganti Kapolri Listyo Sigit Dulu Sebelum Bicara Reformasi Polri, Ini Alasannya