Kapan Muktamar akan Digelar?
Roda organisasi harus tetap berputar. Miftachul menyatakan komitmen itu jelas. Muktamar akan segera diselenggarakan. Waktu pasti belum diumumkan secara detail. Namun kata "segera" menjadi penekanan kuat.
"Untuk memastikan berjalannya roda organisasi secara normal, maka akan dilaksanakan rapat pleno atau muktamar dalam waktu segera," ujar Miftachul dengan penuh keyakinan. Pernyataan ini mengisyaratkan urgensi tinggi. PBNU tak ingin kevakuman kepemimpinan berlarut.
Muktamar menjadi solusi konstitusional yang tepat. Forum tertinggi ini berhak memutuskan segalanya. Regenerasi kepemimpinan bisa terjadi di sana. Kebijakan strategis akan dirumuskan ulang. Arah baru organisasi diharapkan tergambar jelas.
Gus Yahya sendiri terpilih di Muktamar ke-34. Lampung menjadi saksi pemilihannya Desember 2021. Periode kepemimpinan seharusnya 2021-2026. Namun takdir berkata lain sebelum waktunya. Lima tahun menjadi mimpi tak terwujud.
Muktamar mendatang akan jadi momentum krusial. Nahdliyin menanti dengan perasaan campur aduk. Harapan dan kekhawatiran berbaur menjadi satu. Siapa yang akan memimpin selanjutnya? Pertanyaan itu menggantung di udara.
Kontroversi Apa Saja yang Mengiringi Kepemimpinan Gus Yahya?
Jejak kepemimpinan Gus Yahya tak mulus sempurna. Beberapa kontroversi mencuat ke permukaan. Yang paling ramai dibicarakan adalah kehadiran Peter Berkowitz. Akademisi pro-zionis itu hadir dalam Akademi Kepemimpinan Nasional NU.
Kehadiran Peter memicu kemarahan luas. Banyak pihak menilai bertentangan dengan prinsip NU. Solidaritas terhadap Palestina adalah hal fundamental. Zionis dianggap musuh ideologis yang nyata. Gus Yahya kemudian mengaku tak tahu latar belakang Peter.
Pernyataan ketidaktahuan itu menimbulkan tanda tanya. Bukankah seharusnya ada kurasi ketat? Narasumber internasional harusnya diverifikasi mendalam. Kelalaian ini dianggap kesalahan fatal. Kepercayaan publik mulai terkikis perlahan.
Dampaknya meluas hingga kampus. Komunitas mahasiswa UI yang peduli Palestina bergerak. Mereka mendesak Gus Yahya mundur dari jabatan MWA UI. Tekanan politik semakin kuat mengepung. Reputasi personal ikut tergerus hebat.
Kontroversi lain muncul Agustus 2024 silam. Gus Yahya bertemu Presiden Jokowi waktu itu. Topik pembicaraan soal konsesi tambang untuk PBNU. Izin pertambangan jadi bahan diskusi utama. Banyak kalangan mempertanyakan relevansinya dengan misi keagamaan.
Organisasi keagamaan berbicara soal tambang? Pertanyaan kritis bermunculan dari berbagai sudut. Apakah ini bentuk pragmatisme baru? Atau justru penyimpangan dari khittah awal? Debat panjang terjadi di internal NU. Perpecahan opini tak terhindarkan lagi.
Dua kontroversi besar itu seperti bola salju. Mereka menggelinding semakin besar seiring waktu. Kepercayaan terkikis bertahap namun pasti. Legitimasi kepemimpinan dipertanyakan berkali-kali. Hingga akhirnya puncaknya tercapai 26 November.
Baca Juga: Rais Aam PBNU Copot Gus Yahya dari Kursi Ketum, Skandal Narasumber Zionis Jadi Pemicu Utama
Artikel Terkait
Kemenhub Diam-Diam Cabut Izin Bandara IMIP Sejak Oktober, Jauh Sebelum Polemik Mencuat
Wabup Parimo Disebut Tekan PPK Cairkan Dana Proyek Perpustakaan
Tragedi Banjir Bandang Sumatera Telan 303 Nyawa, Ratusan Orang Masih Hilang
Ray Rangkuti Sebut Ganti Kapolri Listyo Sigit Dulu Sebelum Bicara Reformasi Polri, Ini Alasannya
Viral Penjarahan Minimarket di Sibolga Sumut, BNPB: Warga Ambil Makanan Bukan Menjarah