Tak hanya itu. Sapi dari usaha ternak desa, termasuk milik BUMDes, juga biasanya ikut disembelih untuk dibagikan.
“Tapi hari ini dipakai untuk dapur pengungsi,” ujarnya. “Kemudian saat bulan puasa, itu biasanya kami sembelih dua ekor sapi untuk kita bagikan kepada masyarakat secara gratis.”
Masalahnya, banjir bandang tidak hanya merobohkan rumah. Ia juga memusnahkan sumber tradisi.
“Usaha ternak yang ada di desa kami, itu kemarin sudah musnah akibat banjir bandang,” ungkapnya.
Kalimat berikutnya terasa seperti vonis bagi sebuah kebiasaan.
“Sehingga untuk tradisi yang seperti biasanya, itu rasanya sulit terwujud untuk tahun ini.”
Ramadan semakin dekat. Kanji Rumbi semakin menjauh.
Bagi warga Aceh, ini bukan sekadar soal bubur. Ini soal ingatan kolektif. Soal identitas. Soal rasa kehilangan yang datang bukan hanya dari rumah yang hanyut, tetapi juga dari tradisi yang terancam putus.
Baca Juga: Pamit Umroh, Salim A Fillah Tinggalkan Jembatan untuk Tujuh Desa di Aceh
Artikel Terkait
Logika Tangjen di DPR, Sentilan Pedas untuk Kapolresta dan Kajari Sleman
Nusantara Project, Custom ROM Indonesia yang Mendunia Lewat Jalur Sunyi dan Stabil
Adu Banteng Mio vs Carry di Parigi Moutong, Pengendara Motor Meninggal Dunia
Kronologi Pekerja Tambang Kolaka Dikeroyok 4 TKA China Akibat Tanya Gaji
Kenapa Harga Emas Naik Drastis? Tembus 3 Juta di 2026, Masihkah Layak Beli atau Sudah Terlambat